Banyak sekolah menerapkan pembelajaran STEM atau STEAM melalui Project-Based Learning (PjBL) atau Problem-Based Learning (PBL) dengan harapan murid mampu memecahkan masalah secara kreatif dan mandiri. Namun, dalam praktiknya, tidak sedikit yang menemui tantangan dalam pelaksanaannya. Salah satu penyebab utamanya adalah ekspektasi yang terlalu tinggi di tahap awal, ketika murid langsung diminta menjawab pertanyaan seperti “Masalah apa yang ingin kamu pecahkan?” atau “Masalah apa yang ada di sekitarmu?”

Pertanyaan tersebut terdengar sederhana bagi guru atau orang dewasa. Namun, sesungguhnya pertanyaan tersebut mengandung tuntutan kognitif yang kompleks. Mengidentifikasi masalah membutuhkan wawasan, sensitivitas sosial, dan kemampuan berpikir kritis. Tanpa bekal kemampuan tersebut, proyek STEAM berisiko menjadi aktivitas yang kurang bermakna atau sekadar meniru contoh yang diberikan guru.

Sebagai contoh, sisa makanan kantin yang terbuang setiap hari mungkin langsung dipandang sebagai masalah oleh orang dewasa yang memahami isu food waste dan dampaknya. Namun, bagi murid yang belum memiliki wawasan tersebut, kondisi ini belum tentu dianggap bermasalah. Di sinilah sekolah perlu berperan dalam membangun kesadaran, konteks, dan kerangka berpikir murid sebelum menuntut mereka menghasilkan proyek atau solusi.

Di Praxis High School, pembelajaran STEAM dirancang melalui model progresi inkuiri yang bertahap dan terstruktur, dengan dukungan kuat dari pembelajaran IPS atau social science. Pada kelas 10 dan 11, murid diajak berpikir kritis terhadap berbagai fenomena sosial, ekonomi, dan lingkungan melalui pembelajaran social science yang diampu oleh Dr. Amin Tohari, peneliti dan lulusan S3 FISIPOL UGM. Pembelajaran ini berfungsi sebagai fondasi konseptual yang membantu murid memahami bagaimana sebuah fenomena dapat menjadi masalah yang layak diselidiki.

Pada kelas 10, murid mengikuti beberapa tema PjBL dengan inkuiri terstruktur. Inkuiri terstruktur berarti topik dan alur proyek telah dirancang oleh guru, sehingga murid dapat fokus membangun pemahaman konsep, keterampilan kerja proyek, dan pola berpikir analitis. Tahap ini membantu murid memahami makna sebuah “proyek” dan proses inkuiri, sekaligus mengeksplorasi berbagai topik serta mengasah keterampilan seperti desain, koding, dan teknik dasar laboratorium.

Memasuki kelas 11, pembelajaran berkembang menjadi inkuiri terbimbing berbasis masalah (PBL). Murid mulai mengeksplorasi berbagai solusi terhadap permasalahan autentik yang dirumuskan secara interdisipliner. Pada semester kedua kelas 11, murid menjalani program magang yang dirancang sebagai pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning). Melalui refleksi terstruktur, pengalaman magang membantu murid mengaitkan teori dengan praktik dunia nyata.

Pada kelas 12, murid mencapai tahap inkuiri terbuka. Dengan bekal keterampilan, wawasan, dan pengalaman dari kelas sebelumnya, murid secara mandiri merumuskan topik penelitian atau proyek STEAM mereka sendiri. Guru berperan sebagai mentor akademik yang mendampingi proses berpikir dan pendalaman konsep.

Melalui progresi inkuiri terstruktur, inkuiri terbimbing, hingga inkuiri terbuka, program STEAM di Praxis High School tidak menuntut murid melompat terlalu jauh, melainkan membangun kemampuan mereka secara sistematis. Pendekatan ini memastikan pembelajaran STEAM menjadi proses yang bermakna dan mengurangi risiko pembelajaran yang bersifat artifisial atau sekadar menyelesaikan tugas.