Pemerintah melalui Kurikulum Merdeka telah mengambil langkah penting dengan menghadirkan mata pelajaran pilihan di jenjang SMA, serta mata pelajaran pilihan sebagai bagian dari Tes Kemampuan Akademik (TKA). Kebijakan ini patut diapresiasi karena mengakui bahwa setiap murid memiliki minat, potensi, dan kebutuhan belajar yang berbeda. Pendidikan tidak lagi diposisikan sebagai jalur tunggal yang harus dilalui semua murid dengan cara yang sama, melainkan sebagai proses pembelajaran terpersonalisasi (personalized learning) yang mengakomodasi perbedaan.
Namun, kebijakan ini juga membuka tantangan baru. Tidak sedikit murid yang masih kesulitan menentukan bidang yang ingin mereka dalami, baik saat memilih mata pelajaran pilihan maupun ketika menentukan jurusan kuliah. Fenomena “salah jurusan” masih banyak ditemui bahkan setelah seseorang memasuki pendidikan tinggi. Oleh karena itu, pembelajaran terpersonalisasi tidak cukup hanya dengan memberikan pilihan, tetapi perlu didukung oleh desain pembelajaran yang memungkinkan murid mencoba berbagai bidang dan merefleksikannya.
Di Praxis High School, pembelajaran terpersonalisasi dirancang sebagai proses eksplorasi bertahap. Pada kelas 10, murid mengikuti Project-Based Learning (PjBL) dengan inkuiri terstruktur dalam sistem blok. Setiap bulan, murid mengeksplorasi tema yang berbeda, mencakup bidang sains (bioteknologi, bioinformatika), bisnis, engineering (data science, kecerdasan artifisial), serta seni (fotografi, videografi, desain grafis, dan visual branding). Sistem ini memberi ruang bagi murid untuk mengenali ketertarikan dan kecenderungan mereka melalui pengalaman langsung, bukan asumsi semata.
Memasuki kelas 11, pembelajaran berkembang menjadi Problem-Based Learning (PBL) dalam proyek kelompok interdisipliner. Dalam satu proyek dan kelompok, murid menjalankan peran yang jelas sesuai dengan bidang yang mereka pilih, seperti engineer, researcher, designer, atau business strategist. Model ini dirancang agar setiap murid bertanggung jawab atas kontribusinya sekaligus memahami konteks umum proyek secara menyeluruh.
Melalui pembagian peran yang jelas, risiko murid hanya “numpang nama” dalam kelompok dapat diminimalkan. Murid juga belajar bekerja dalam sistem kolaboratif yang mencerminkan dunia nyata.
Pendekatan ini sejalan dengan pandangan bahwa pembelajaran yang efektif memerlukan keseimbangan antara depth dan breadth. Murid perlu memiliki pendalaman pada bidang tertentu tanpa kehilangan pemahaman lintas disiplin. Dengan peran yang terdefinisi, murid belajar mengenali kekuatan dirinya sekaligus memahami bagaimana perannya berkontribusi dalam sebuah tim.
Dengan pendekatan ini, pembelajaran terpersonalisasi menjadi proses pedagogik yang disengaja. Murid tidak dipaksa menentukan masa depannya terlalu dini, tetapi difasilitasi untuk mengenali dirinya secara bertahap melalui pengalaman belajar yang autentik. Harapannya, murid mampu melangkah ke jenjang pendidikan berikutnya dengan keputusan yang lebih sadar dan berkesadaran.