Penerapan pembelajaran STEM di sekolah-sekolah di Indonesia semakin populer seiring dengan komitmen pemerintah untuk memprioritaskan pengembangan sains dan teknologi. Namun, di lapangan, implementasinya tidak selalu berjalan mulus. Tantangan yang muncul sering kali bukan terletak pada niat atau kurikulum, melainkan pada kesiapan ekosistem pembelajaran. Berikut beberapa tantangan yang saya temui saat mengajar proyek di berbagai sekolah di Indonesia dan selama menjadi Kepala Praxis High School, sekolah alternatif berbasis STEAM (STEM dan Art) di Yogyakarta.

1. Kreativitas Murid yang Belum Terbangun Secara Optimal

Banyak murid mengalami kesulitan ketika diminta menentukan bidang minat atau mengidentifikasi masalah di sekitarnya. Pertanyaan seperti “Apa bidang atau topik yang kamu sukai?” atau “Masalah apa yang ingin kamu pecahkan?” sering kali dijawab dengan kebingungan. Hal ini bukan semata-mata karena kurangnya motivasi, melainkan karena murid belum terbiasa melihat fenomena sebagai masalah dan belum memiliki keberanian untuk menyampaikan pendapat.

Kondisi ini tidak terlepas dari pengalaman belajar di jenjang sebelumnya. Berdasarkan pengalaman saya sebagai mentor lomba penelitian, murid yang jarang mendapatkan ruang eksplorasi dan diskusi cenderung kesulitan ketika tiba-tiba dituntut membuat proyek yang membutuhkan kreativitas. Sebaliknya, murid dari sekolah yang memberi paparan lebih luas biasanya lebih siap. Ini menunjukkan bahwa kesiapan murid menerima pembelajaran STEM merupakan hasil dari proses pembelajaran yang panjang.

2. Ekspektasi Guru yang Terlalu Tinggi

Tantangan lain muncul dari ekspektasi bahwa ketika murid diajak “memecahkan masalah”, ide-ide cemerlang akan langsung muncul. Padahal, kreativitas dan kemampuan pemecahan masalah membutuhkan waktu yang berbeda bagi setiap murid. Pada generasi yang terbiasa dengan hasil instan, proses berpikir mendalam sering kali tidak terjadi secara natural. Fokus pada satu topik atau menyelesaikan satu masalah dalam jangka waktu tertentu menjadi tantangan tersendiri.

Salah satu indikator kesulitan murid yang kerap saya temui adalah ketika mereka langsung mencari solusi dengan bertanya kepada AI generatif seperti ChatGPT. Penggunaan AI generatif tidak perlu dilarang secara total dan bahkan dapat menjadi alat yang bermanfaat apabila digunakan secara bijak. Namun, ketika murid langsung bergantung pada AI tanpa mencoba mengembangkan ide secara mandiri terlebih dahulu, hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara ekspektasi guru dan kesiapan murid.

3. Paradigma Pembelajaran yang Masih Tradisional

Meskipun mengusung STEM, praktik pembelajaran sering kali masih terjebak pada batasan mata pelajaran dan capaian pembelajaran (CP) yang kaku. Murid diminta mengeksplorasi masalah dunia nyata, tetapi penyelesaiannya harus tetap berada dalam koridor satu mata pelajaran atau CP tertentu. Guru masih berangkat dari pemikiran, “Saya perlu mengajar mapel X dengan CP A, B, C—mana yang bisa saya STEM-kan?”

Akibatnya, proyek kehilangan sifat autentiknya dan tidak merefleksikan kompleksitas dunia nyata yang bersifat lintas disiplin. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan STEM menuntut pergeseran paradigma guru, dari sekadar pengajar materi menjadi perancang pengalaman belajar. Pengambil kebijakan memiliki peran penting dalam menciptakan sistem yang memberi ruang inovasi bagi guru agar pembelajaran STEM tidak berhenti pada label semata.

4. Kemandirian Belajar Murid yang Masih Terbatas

Dalam banyak proyek STEM, murid sering memiliki gagasan untuk menggunakan teknologi atau pendekatan yang belum mereka kuasai, seperti koding atau Internet of Things (IoT). Tantangannya tidak hanya terletak pada penguasaan teknis, tetapi juga pada kemampuan belajar mandiri. Banyak murid belum terbiasa mencari sumber belajar, bereksperimen, dan mencoba secara mandiri.

Kondisi ini menempatkan guru pada dilema, antara harus mengajarkan satu per satu secara intensif atau meminta murid mengganti proyek yang telah dirancang. Tanpa penguatan kemandirian belajar, proyek STEM berpotensi kehilangan esensinya sebagai sarana eksplorasi.

5. Orientasi Pembelajaran yang Terlalu Berfokus pada Hasil

Budaya penilaian yang menitikberatkan pada produk akhir juga menjadi tantangan dalam pembelajaran STEM. Ide yang belum matang atau dianggap “tidak biasa” sering kali kurang diapresiasi, sehingga murid enggan mengambil risiko. Umpan balik yang diberikan pun kerap berorientasi pada benar-salah, bukan pada proses berpikir.

Akibatnya, guru cenderung memberikan terlalu banyak instruksi agar proyek terlihat berjalan dengan baik, sementara murid hanya mengikuti arahan yang ada. Padahal, esensi STEM terletak pada proses eksplorasi, iterasi, dan refleksi yang berkelanjutan.

Penutup

Berbagai tantangan dalam penerapan pembelajaran STEM menunjukkan bahwa pendekatan ini tidak dapat dijalankan secara instan atau sekadar mengikuti tren. STEM menuntut kesiapan murid, guru, serta desain pembelajaran dan kebijakan yang selaras agar benar-benar bermakna.